Piala Dunia selalu menghadirkan lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Turnamen ini mempertemukan sejarah, emosi, dan harga diri bangsa dalam satu panggung yang sama. Ketika Piala Dunia FIFA 2026 digelar di Amerika Utara, para penggemar bukan hanya menantikan gol-gol indah atau kejutan dari tim kuda hitam. Mereka juga menunggu satu hal yang selalu memanaskan suasana: rivalitas klasik.

Menariknya, format 48 tim membuka peluang lebih besar bagi pertemuan ulang dua kekuatan lama. Dengan lebih banyak pertandingan dan fase gugur yang semakin kompetitif, jalan menuju final bisa mempertemukan kembali musuh lama yang pernah menciptakan sejarah. Lalu, rivalitas mana saja yang berpotensi terulang dan kembali mengguncang dunia?
Argentina vs Prancis: Duel Generasi dan Balas Dendam
Tidak bisa dimungkiri, final dramatis di Piala Dunia FIFA 2022 masih membekas di ingatan publik. Saat itu, Tim nasional sepak bola Argentina dan Tim nasional sepak bola Prancis menyajikan salah satu laga terbaik sepanjang sejarah turnamen.
Di satu sisi, Argentina mengandalkan magis Lionel Messi. Di sisi lain, Prancis memperlihatkan ledakan energi dari Kylian Mbappé. Kini, jika keduanya kembali bertemu di 2026, narasinya akan berbeda. Messi mungkin tidak lagi menjadi pusat permainan, sementara Mbappé justru memasuki usia emasnya.
Selain itu, Argentina membawa mental juara bertahan, sedangkan Prancis tentu ingin membalas kekalahan menyakitkan mereka. Jika undian mempertemukan keduanya di fase gugur, atmosfer pertandingan hampir pasti kembali membara. Dengan kualitas skuad yang relatif stabil, duel ini sangat mungkin terjadi lagi.

Brasil vs Jerman: Luka Lama yang Belum Sepenuhnya Sembuh
Bicara soal rivalitas, sulit mengabaikan kenangan pahit di Piala Dunia FIFA 2014. Saat itu, Tim nasional sepak bola Jerman menghancurkan Tim nasional sepak bola Brasil dengan skor telak 7-1 di semifinal. Kekalahan tersebut bukan sekadar hasil pertandingan; itu menjadi trauma nasional bagi Brasil.
Namun demikian, waktu telah berlalu. Generasi pemain berubah, pelatih berganti, dan pendekatan taktik pun berkembang. Brasil kini membangun ulang kekuatannya dengan kombinasi talenta muda dan pengalaman. Sebaliknya, Jerman berusaha kembali ke identitas permainan menyerang yang disiplin dan efektif.
Apabila keduanya bertemu lagi di 2026, laga itu tidak hanya soal tiket ke babak berikutnya. Lebih dari itu, pertandingan tersebut akan menjadi ajang pembuktian dan penebusan. Brasil tentu ingin menghapus bayang-bayang 7-1, sementara Jerman berambisi menunjukkan bahwa dominasi mereka bukan kebetulan.

Inggris vs Jerman: Rivalitas Eropa yang Tak Pernah Pudar
Rivalitas antara Tim nasional sepak bola Inggris dan Jerman sudah berlangsung puluhan tahun. Sejak final 1966 hingga adu penalti dramatis di berbagai turnamen besar, setiap pertemuan selalu sarat tekanan.
Meskipun keduanya berasal dari generasi yang berbeda, sejarah tetap membayangi. Inggris membawa skuad muda dengan kecepatan dan kreativitas. Di sisi lain, Jerman terkenal dengan kedisiplinan dan mental baja di turnamen besar.
Jika mereka kembali bertemu di Piala Dunia 2026, publik Eropa pasti langsung menyorot laga tersebut sebagai “final sebelum final”. Selain itu, dengan format baru yang memperpanjang fase gugur, peluang pertemuan di babak perempat final atau semifinal semakin terbuka.

Spanyol vs Belanda: Ulangan Final Penuh Emosi
Final Piala Dunia FIFA 2010 menghadirkan duel panas antara Tim nasional sepak bola Spanyol dan Tim nasional sepak bola Belanda. Gol tunggal Andrés Iniesta memastikan Spanyol meraih gelar pertamanya, sementara Belanda kembali gagal di partai puncak.
Kini, kedua tim memiliki generasi baru dengan gaya bermain yang lebih dinamis. Spanyol tetap mengandalkan penguasaan bola, meski lebih fleksibel dalam transisi. Sementara itu, Belanda tampil dengan organisasi pertahanan solid dan serangan balik cepat.
Apabila undian mempertemukan mereka lagi, publik akan kembali mengingat duel keras di Johannesburg. Namun kali ini, kedua tim datang dengan semangat baru dan ambisi berbeda.

Portugal vs Spanyol: Derby Iberia di Panggung Dunia
Rivalitas geografis sering kali menghadirkan tensi ekstra. Pertemuan antara Tim nasional sepak bola Portugal dan Tim nasional sepak bola Spanyol selalu menarik perhatian, baik di Piala Dunia maupun turnamen Eropa.
Pertandingan fase grup di 2018 yang berakhir 3-3 menjadi bukti betapa seimbangnya kekuatan kedua tim. Kini, Portugal memiliki generasi muda yang semakin matang, sementara Spanyol terus membangun fondasi permainan kolektif.
Jika mereka bertemu lagi di 2026, laga tersebut tidak hanya soal gengsi regional. Lebih jauh, pertandingan itu bisa menjadi momen penentu perjalanan salah satu tim menuju semifinal atau bahkan final.

Mengapa Format 48 Tim Membuka Peluang Lebih Besar?
Berbeda dari edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 akan melibatkan 48 negara. Dengan demikian, jumlah pertandingan meningkat signifikan. Konsekuensinya, jalur menuju babak gugur menjadi lebih kompleks.
Namun justru di sinilah letak menariknya. Dengan lebih banyak kombinasi undian dan potensi kejutan, dua tim besar bisa saja bertemu lebih awal atau bahkan kembali berhadapan di fase yang lebih menentukan.
Selain itu, peningkatan jumlah peserta memberi kesempatan bagi tim-tim kuat untuk lolos lebih konsisten ke fase gugur. Hal ini secara tidak langsung memperbesar peluang rivalitas klasik terulang.
Baca Juga : Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026
Lebih dari Sekadar Pertandingan
Pada akhirnya, rivalitas klasik menghadirkan cerita yang melampaui skor akhir. Setiap pertemuan membawa memori, tekanan, dan ekspektasi publik yang luar biasa besar. Oleh karena itu, ketika dua kekuatan lama kembali saling berhadapan, atmosfernya selalu berbeda.
Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung sempurna bagi babak baru rivalitas-rivalitas tersebut. Entah itu duel Argentina kontra Prancis, Brasil melawan Jerman, atau derby Iberia antara Portugal dan Spanyol, semuanya memiliki potensi menciptakan momen ikonik baru.
Kini, para penggemar tinggal menunggu hasil undian dan perjalanan masing-masing tim. Namun satu hal pasti: ketika rivalitas klasik terulang, dunia sepak bola kembali menyaksikan drama yang tak pernah kehilangan daya tariknya.